cbox



My.Google My.Facebook My.Twitter

Kamis, 15 November 2012

Belajar santun dan memaafkan


– Laki-laki itu menuntun seekor unta dengan kasar. Tangannya menarik tali kekang untanya dengan keras, sementara mulutnya tak pernah berhenti memaki si unta. Nampaknya si unta menahan sakit, terlihat sebelah matanya keluar dari kelopaknya sampai menempel di pipinya. Sebelah wajah si unta telah basah oleh aliran darah.
Kejadian di siang bolong itu menggemparkan penduduk Bashrah. Mereka geleng kepala melihat sosok laki-laki itu dan unta yang diseretnya. Sangat kontras. Betapa tidak, sedangkan nilai laki-laki yang menyeret unta dengan unta yang diseret itu jauh tidak sebanding. Jangan keliru, unta itu adalah unta kesayangan pemiliknya. Adapun laki-laki yang menyeretnya bukanlah pemilik unta, tapi seorang budak miliki si pemilik unta!
Kontan saja masyarakat Basrah satu sama lain saling berbisik, "Wah, hari ini tamat sudah riwayat budak tak tahu diri ini."
Kegaduhan di depan sebuah rumah di kota Basrah itu mengundang si pemilik rumah untuk keluar ke halaman. Begitu ia keluar rumah, di hadapannya sudah berkerumun banyak orang. Para tetangga, budak miliknya dan unta kesayangannya dalam kondisi mengenaskan. Orang yang baru saja keluar dari dalam rumah itu memang pemilik si unta dan tuan dari si budak penyeret unta.
Dalam kondisi seperti itu, seorang tuan tentu wajar apabila marah dan naik pitam. Tentu biasa apabila seorang tuan membentak budaknya dan mencercanya dengan rentetan pertanyaan. Kenapa engkau berteriak-teriak dan memaki-maki? Kenapa mata unta kesayanganku sampai keluar dari kelopaknya? Siapa yang mencederai unta kesayanganku? Bagaimana kamu menjaga unta kesayanganku? Dan pertanyaan-pertanyaan dengan nada menyalahkan lainnya.
Di luar dugaan si budak dan para tetangga yang mengerumuninya, si tuan pemilik unta kesayangan itu memberikan reaksi yang sangat mengejutkan. Kalimat yang diucapkannya sungguh luar biasa. Dengan tenang dan penuh wibawa, tuan si budak sekaligus pemilik unta kesayangan itu mengatakan:
سُبْحَانَ اللهِ، أَفَلاَ غَيْرَ الوَجْهِ، بَاركَ اللهُ فِيْكَ، اخْرُجْ عَنِّي، اشْهَدُوا أَنَّهُ حُرٌّ.
"Subhanallah (Maha Suci Allah). (Jika engkau memukul) kenapa tidak pada selain wajah? Semoga Allah memberkatimu, pergilah engkau dariku dan saksikanlah oleh kalian semua bahwa ia aku merdekakan!"
Sungguh jawaban yang hebat. Tidak ada caci maki, bentakan dan emosi sedikit pun dalam kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia juga tidak melayangkan tangannya untuk memukul budaknya, atau melayangkan kakinya untuk menendangnya, apalagi memuntahkan ludahnya ke wajah budaknya.
Kalimat yang pertama keluar dari mulutnya justru kalimat dzikir yaitu tasbih, subhanallah. Kalimat kedua adalah sebuah pengajaran: jika terpaksa harus memukul, hendaknya memukul di daerah selain wajah dan jangan sampai melukai. Kalau terpaksa harus memukul, hendaknya pukulan ringan sebagai peringatan dan nasehat, bukan pukulan pelampiasan dendam.
Kalimat ketiga adalah sebuah doa bagi si budak yang telah berbuat salah itu, baarakallahu fiika, semoga Allah memberkahimu. Kalimat keempat adalah kedermawanan, ia memerdekakan si budak yang berbuat salah tersebut secara cuma-cuma, tanpa tebusan dan syarat apapun, detik itu juga, dan seluruh tetangga yang berkerumun di depan rumah itu menjadi saksinya.
Saudaraku seislam dan seiman….
Anda mungkin bertanya-tanya dalam hati, apakah kisah di atas sebuah cerita fiktif belaka ataukah benar-benar pernah terjadi? Jika memang kejadian nyata, siapa sosok si tuan yang penyabar, penyantun, pemaaf dan dermawan tersebut?
Kisah di atas benar-benar pernah terjadi tiga belas abad yang lalu di kota Bashrah. Si tuan pemilik budak dalam kisah di atas adalah seorang ulama dan ahli ibadah generasi tabi'in yang sangat dibanggakan oleh dunia Islam pada zamannya. Ia adalah imam Abdullah bin Aun bin Arthaban Al-Muzani. Beliau dilahirkan pada tahun 66 H di kota Bashrah dan wafat pada bulan Rajab 151 H. Unta kesayangan itulah yang senantiasa mengantarkannya ke medan jihad di bumi Syam dan haji ke baitullah di Makkah.
Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Adz-Dzahabi menulis tentang sosok imam Abdullah bin Aun, "Al-imam (sang ulama), al-qudwah (sang teladan), ulama Bashrah, Abu Aun maula suku Muzani, orang Bashrah, al-hafizh (ulama hadits yang hafal puluhan ribu hadits). Ia adalah salah seorang ulama yang memadukan ilmu dan amal." (Siyar A'lam An-Nubala', 6/365-366)
Kedalaman ilmunya diakui oleh para ulama besar generasi tabi'in dan tabi'it tabi'in. Imam Al-Awza'i, Syu'bah bin Hajjaj, Abdurrahman bin Mahdi, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin Ma'in dan lain-lain mengakuinya sebagai salah satu ulama hadits, tafsir, qira'ah dan fiqih paling hebat di Irak pada masanya.
Kesungguhan ibadahnya, penjagaan lisannya, kesantunan, pemaafan dan kedermawanannya juga diakui oleh semua penduduk Bashrah.
Al-Qa'nabi berkata, "Ibnu Aun tidak pernah marah. Jika ada seseorang yang membuatnya marah, ia hanya berkata: "Semoga Allah memberkatimu."
Salam bin Abi Muthi' berkata, "Ibnu Aun adalah orang yang paling bisa menjaga lisannya."
Kharijah bin Mush'ab berkata, "Aku telah menemani Ibnu Aun selama 24 tahun. Selama itu aku tidak pernah melihat malaikat (layak) mencatat satu kesalahan pun bagi dirinya." (Siyar A'lam An-Nubala', 6/366)
Sifat-sifat mulia itu tidak heran disandang oleh imam Abdullah bin Aun. Dalam hidupnya ia memegang erat nasehatnya sendiri, "Menyebut-nyebut manusia itu adalah penyakit, adapun menyebut-nyebut Allah (dzikir) itu adalah obat."
Lembaran kehidupannya sungguh penuh dengan catatan ilmu dan amal. Imam Adz-Dzahabi meringkas komentarnya tentang imam Abdullah bin Aun dengan menulis, "Sungguh Ibnu Aun telah dikaruniai sifat santun dan ilmu dan jiwanya suci membantu dirinya untuk menjadi orang yang bertakwa. Sungguh beruntunglah ia." (Siyar A'lam An-Nubala', 6/369)
Saudaraku seislam dan seiman…
Banyak hikmah bisa kita petik dari kehidupan imam Abdullah bin Aun Al-Muzani, jika saja kita menyempatkan diri untuk mengkaji secara lengkap kehidupan beliau dan merenungkannya. Sengaja kita hanya mencuplik sepenggal kisah nyata dari kehidupan beliau, agar kita bisa belajar menumbuhkan sifat santun, pemaaf dan dermawan di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan Allah ini.
Puasa di bulan Ramadhan bukan sarana untuk membiasakan lapar dan dahaga semata. Ia juga merupakan sarana untuk mengendalikan emosi dan hawa nafsu agar sejalan dengan tuntunan wahyu Allah. Kemarahan, dendam, iri hati, dengki, sombong, dan penyakit-penyakit hati lainnya harus disucikan. Sifat-sifat utama seperti pemaaf, penyantun dan dermawan harus ditumbuhkan dan dibiasakan.
Jika hal itu berhasil dilakukan oleh orang yang berpuasa Ramadhan, niscaya kehidupan di luar bulan Ramadhan akan lebih indah dan penuh warna. Sifat-sifat utama tersebut adalah cirri-ciri utama kaum yang bertakwa, sementara tujuan finish berpuasa adalah mengantarkan kepada derajat takwa. Maha Benar Allah dengan firman-Nya,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran [3]: 133-134)
Allah Ta'ala juga telah menjanjikan balasan yang sangat menggiurkan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya,
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran [3]: 136)  
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi:
Adz-Dzahabi, Siyaru A'lam An-Nubala', 6/364-375, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 3, 1405 H

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar