Otak
adalah bagian paling kompleks pada tubuh manusia. Sebagai pusat
berpikir, mengingat, inovasi, dan penafsiran terhadap fungsi panca
indra, inisiator gerakan tubuh, dan pengendali perilaku. Otak pula
sumber semua kualitas yang mendefinisikan kemanusiaan kita. Otak itu
permata tubuh manusia.
Berabad-abad diteliti, otak tetap misteri.
Untuk mengungkapnya, ilmuwan belajar lebih banyak 10 tahun terakhir
karena percepatan penelitian dalam ilmu saraf dan perilaku didukung
pengembangan teknik penelitian baru (Gambar 1: ilustrasi otak manusia).
Secara
prinsip, otak melayani fungsi penting kehidupan. Melalui indra
penglihatan, penciuman, sentuhan, rasa, dan pendengaran, otak menerima
banyak pesan bersamaan.
Otak mengontrol pikiran, memori, gerakan
tangan dan kaki, serta fungsi semua organ dalam tubuh. Otak adalah
struktur yang sangat terorganisasi, terdiri atas ratusan miliar sel
saraf (neuron) yang berhubungan. Jumlah jejaringnya ribuan triliun sel
saraf (sinaps).
Banyak faktor memengaruhi fungsi otak, antara
lain faktor genetik, psikologi/kejiwaan, lingkungan, makanan, dan
minuman. Secara khusus, dalam ilmu saraf dikenal istilah plastisitas
otak. Plastisitas otak mengacu pada kapasitas sistem saraf untuk
mengubah struktur dan fungsinya sebagai reaksi terhadap keragaman
lingkungan.
Tiga bentuk utama dari plastisitas jaringan otak yang
dapat dijelaskan adalah plastisitas sinaptik, neurogenesis, dan
fungsional kompensasi.
Plastisitas sinaptik adalah ketika otak
terlibat pembelajaran dan pengalaman baru, akan terjadi interaksi dan
jejaring baru pada hubungan sel-sel saraf di otak.
Neurogenesis
merupakan proses kelahiran dan proliferasi neuron baru di otak. Sel-sel
saraf baru ini akan bermigrasi ke sejumlah daerah di otak di mana mereka
dibutuhkan merehabilitasi/menggantikan sel-sel yang rusak/mati (Gambar
2: regenerasi sel-sel saraf).
Fungsional kompensasi ialah pada
saat seseorang menua, plastisitas otak menurun. Namun, tak semua orang
yang lebih tua berkinerja lebih rendah. Bahkan ada yang mengalami
pencapaian kinerja lebih baik dibandingkan dengan yang lebih muda.
Istilah neurosains, fenomena itu disebut fungsional kompensasi.
Biologis dan psikologisBerdasarkan
faktor yang memengaruhi fungsi otak itu, muncul pertanyaan, bagaimana
kondisi biologis, psikologis, dan fungsional otak saat berpuasa?
Berpuasa secara hakikat bukan hanya menahan dahaga dan lapar. Lebih dari
itu, suatu latihan psikis, mental, dan fisik biologi.
Secara psikis, orang berpuasa kian memiliki jiwa dan perilaku sehat. Secara biologi, diharapkan bermanfaat bagi kesehatan.
Puasa
menahan dahaga dan lapar sekitar 14 jam. Selama itu, tubuh mengalami
proses metabolisme/makanan didaur ulang sekitar delapan jam. Rinciannya,
empat jam makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dibantu asam
lambung dan dikirim ke usus. Empat jam kemudian, makanan diubah jadi
sari-sari makanan di usus kecil, lalu diserap pembuluh darah dan dikirim
ke seluruh tubuh. Sisa waktu enam jam adalah waktu ideal bagi sistem
pencernaan untuk istirahat.
Manfaat pada fungsi otakBerpuasa
melatih seseorang hidup teratur, disiplin, dan mencegah kelebihan
makan. Menyehatkan tubuh karena makanan terkait erat metabolisme tubuh.
Karena
ada fase istirahat setelah fase pencernaan normal—6-8 jam—pada fase itu
terjadi degradasi lemak dan glukosa darah. Terjadi pula peningkatan
high density lipoprotein (HDL) dan apoprotein alfa1 serta penurunan low
density lipoprotein (LDL). Ini amat bermanfaat bagi kesehatan jantung
dan pembuluh darah karena HDL berefek baik bagi kardiovaskular,
sedangkan LDL berefek negatif bagi pembuluh darah. Itu menjauhkan
serangan jantung dan pembuluh darah.
Bagi penyakit
kardiovaskular, yang terbaik adalah mencegah. Caranya, memperbaiki gaya
hidup, pola makan sehat (perbanyak makanan berserat dan membatasi lemak
dan kolesterol tinggi), serta olahraga teratur.
Secara
psikologis, ketenangan dan mengendalikan emosi menurunkan adrenalin.
Adrenalin memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah
perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah
arterial, serta menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak
jantung. Adrenalin menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein
berkepadatan rendah. Itu semua meningkatkan risiko penyakit pembuluh
darah, jantung, dan otak, seperti jantung koroner dan stroke.
Penelitian
endokrinologi menunjukkan, pola makan saat puasa yang rotatif
menyebabkan keluarnya hormon sistem pencernaan, seperti amilase dan
insulin, dalam jumlah besar sehingga meningkatkan kualitas hidup dan
kesehatan tubuh.
Manfaat puasa bagi fungsi dan kesehatan otak
dapat dijelaskan ilmiah. Penelitian plastisitas dan neurogenesis
(kelenturan dan perkembangan otak), pada dasarnya sinapsis (jaringan
otak) dapat berkembang berdasarkan faktor lingkungan, kejiwaan, dan
makanan yang dikonsumsi. Dr Johansen-Berg, et al (Neuron Journal, 2012)
menjelaskan, sinapsis di otak dapat berubah selama 24 jam yang terekspos
pembelajaran dan latihan.
Lewat puasa sebulan penuh, berdasarkan
plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak
diperbarui. Terbentuk rute jaringan baru di otak, yang berarti terbentuk
pribadi/manusia baru secara biologis, psikologis, dan fungsional.
Secara fisik, puasa mengurangi potensi stroke dan jantung koroner serta menjadikan manusia dengan pikiran lebih baik.
sumber